Mataram (Lombok Post) – Bank NTB menggandeng enam konsultan berpengalaman untuk menyukseskan konversi Bank NTB ke Bank NTB Syariah. Salah satunya langsung dari Islamic Corporation for the Development of the Private Sector (ICD) Kingdom of Saudi Arabia yang merupakan member of Islamic Development Bank Group (IDB).

Lainnya ada dari Markplus, Batasa Tazkia, LPPI, Collega Inti Pratama dan Dunamis. “Rencana konversi dari konvensional menjadi Syariah tidak bisa berjalan sendiri”, kata Direktur Utama Bank NTB H. Komari Subakir di Hotel Golden TUlip kemarin (05/04) di sela Rapat Koordinasi Team Project Management Bersama Konsultan Pendamping Konversi PT. Bank NTB Menjadi PT. Bank NTB Syariah di Hotel Golden Tulip, kemarin.

Dalam rapat koordinasi tersebut, seluruh pemangku kepentingan dikumpulkan untuk memberikan pemaparan-pemaparan. Konversi Bank NTB ke Syariah sendiri telah diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) dan kemudian ditindaklanjuti melalui kajian komprehensif.

“Kami akan terus proses. diperkirakan 10 bulan ke depan, insya Allah ready dan pelaksanaan itu Agustus 2018 kira-kira 17 Agustus 2018 mendatang”, kata Komari.

Wakil Gubernur NTB H. Muhammad Amin dalam pertemuan tersebut menegaskan pentingnya rapat koordinasi tersebut untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis bersama mengubah Bank NTB dari sistem perbankan konvensional menjadi Bank Syariah NTB. Perubahan ini merupakan upaya semua pihak membangun sistem perbankan yang berjalan sesuai dengan napas kehidupan NTB. “Sekaligus mendekatkan Bank NTB kepada masyarakat NTB sendiri yang sebagian besar muslim”, katanya.

Dalam konteks makro, perubahan ini akan meningkatkan aset bank syariah nasional secara keseluruhan. Sehingga mendukung pertumbuhan kinerja perbankan syariah hingga mampu menembus angka psikologis 5 persen dari total aset perbankan nasional. Dengan indikator ini, NTB bukan hanya mampu berkontribusi bagi pembangunan daerah tetapi juga pembangunan nasional. Upaya yang sedang dilakukan ini harus dilakukan secara menyeluruh. Sehingga masyarakat nantinya dapat merasakan perbedaan nyata ketika bertransaksi dengan Bank NTB yang telah berubah menjadi bank syariah. “Jangan nanti masyarakat menilai sama saja seperti konvensional”, tuturnya.

Tentunya untuk mencapai target ini maka harus memperhatikan beberapa hal penting. Pertama, mengkonversi transaksi konvensional yang berbasis riba kepada transaksi yang patuh syariah. Ini dilakukan dengan mengkonversi segala dana nasabah dan pembiayaan yang telah dilakukan oleh Bank NTB sebelum ini, kedalam akad-akad baru sesuai dengan yang ditentukan oleh syariah.

Proses ini memerlukan ketelitian dan konsistensi karena sejarah operasional Bank NTB yang panjang. Disamping perlu adanya pemberitahuan dan persetujuan nasabah terhadap perubahan transaksi tersebut.

Kedua, Bank NTB Syariah perlu mulai beroperasi secara islami dengan mengikuti aturan-aturan syariah dalam aspek muamalah maliyah. Layaknya sebuah bank umum syariah, Bank NTB Syariah harus memastikan semua aktivitasnya dalam penghimpunan dana (funding), pembiayaan (financing), investasi dan usaha lainnya sesuai dengan aturan syariah. Dalam hal ini, Dewan Penasihat Syariah (DPS) akan memastikan segala aspek operasional Bank NTB Syariah patuh syariah.

Dan ketiga, adalah memastikan praktik Bank NTB Syariah sesuai dengan nilai, prinsip dan tujuan syariat. Dengan kata lain, bank syariah tersebut tidak patuh syariah dari segi formalitas akadnya saja, tetapi juga membawa nilai, misi dan tujuan syariat.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, agenda Bank NTB Syariah sebenarnya bukan cuma mentransformasikan praktik operasional bank yang berbasis bunga (riba) dengan berbagai akad transaksi yang patuh syariah saja. Tetapi lebih dari itu, Bank syariah diharapkan mampu memberikan pengharapan kepada rakyat terhadap sistem ekonomi yang adil, yang peduli pada rakyat, yang konsisten terhadap sektor riil ekonomi. “Agar tidak terperangkap dalam praktik eksploitasi nasabah sebagaimana dalam praktik bank berbasis riba (bunga)”, terang Wagub.

Bank NTB Syariah nantinya diharapkan mampu memberikan perubahan fundamental dari sistem ekonomi yang menghisap, peduli kepada pemilik modal saja, menjadi sistem ekonomi yang membangun, partisipatif, saling berbagi dan peduli kepada rakyat banyak.