Mataram (Lombok Post) – PT. Bank NTB tahun ini akan membagikan dividen sebesar Rp 142 miliar kepada seluruh pemegang saham. Besaran dividen tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank NTB tahun buku 2016, yang dihadiri Wakil Gubernur NTB H. Muhammad Amin di Hotel Golden Tulip Mataram, kemarin (23/5).

Dari dividen sebesar Rp 142 miliar itu, RUPS juga menyetujui sebanyak Rp 71 miliar dividen tersebut menjadi modal yang disetorkan kembali pemegang saham ke Bank NTB.

“Pemegang saham mengapresiasi kinerja Bank NTB. Diharapkan kinerja ke depan lebih baik lagi,” kata Wakil Gubernur NTB H. Muhammad Amin usai mengikuti RUPS kemarin.

RUPS tersebut kata dia merupakan agenda pengesahan atas laporan pertanggungjawaban direksi PT. Bank NTB tahun buku 2016 kepada pemegang saham dan digelar pada setiap akhir tahun buku. Selain Wagub, RUPS dihadiri oleh seluruh pemegang saham atau pejabat yang diberi kuasa. Seperti diketahui, saham Bank NTB dimiliki Pemprov NTB dan seluruh pemerintah daerah di NTB.

“Catatan penting yang perlu diperhatikan bagaimana memberikan pelayanan terbaik dan harus kompetitif dengan bank lain,” tandas Wagub lagi.

Pihaknya melihat dari hasil paparan dalam RUPS, kinerja Bank NTB sudah cukup baik dan progresif. Dan karena itu kata Wagub, semua yang sudah mengalami pertumbuhan tentunya harus bisa ditingkatkan dengan mempertahankan yang sudah baik. “Yang penting penting memperbaiki dan meyempurnakan terutama memperluas ekspansi peluang bisnis perbankan yang lebih luar,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Bank NTB H. Komari Subakir mengatakan dalam Tahun Buku 2016 sampai dengan triwlan I 2017, secara keseluruhan hasil kinerja bank menunjukkan pertumbuhan yang positif. Aset bank tahun 2016 meningkat 25,17 persen dari Rp 6,11 triliun pada 2015 menjadi Rp 7,649 triliun. Sementara pada triwulan I 2017 sudah meingkat 15,66 persen pada triwulan I 2017 menjadi Rp 8,846 triliun. “Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan modal khususnya dana tambahan modal disetor.” jelasnya.

Ia menjelaskan DPK merupakan simpanan nasabah yang dipercayakan kepada Bank dalam bentuk giro, tabungan dan deposito. Jumlah DPK pada tahun 2016 meningkat 14,26 persen dari Rp 4,561 triliun pda tahun 2015 menjadi Rp 5,211 triliun. Sementara pada triwulan I 2017 juga telah tumbuh mejadi Rp 7,263 triliun.

Komari menegaskan, kebijakan dalam pengelolaan simpanan nasabah adalah meningkatkan daya saing dengan tetap berorientasi pada penghimpunan dana murah yaitu dana retail. Termasuk meingkatkan penghimpunan dana di luar dana pemerintah daerah dengan tetap mempertahankan dana-dana pemda. Dari sisi kredit yang diberikan, apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya juga meingkat hingga 10,62 persen. Tahun 2015, jumlah kredit yang disalurkan Rp 4,6 triliun. Sementara akhir 2016 telah mencapai Rp 5 triliun. Dari jumlah kredit yang disalurkan tersebut, sebanyak Rp 791 miliar merupakan pembiayaan produktif. Sementara Rp 4,29 triliun merupakan kredit konsumtif.

Sejalan dengan upaya lebih menyalurkan kredit pada sektor produktif, maka pada triwulan I 2017 kata Komari, khusus sektor produktif mengalami peningkatan dengan capaian Rp 795 miliar. Yang berarti pencairan kredit secara bulanan mencapai Rp 157 miliar dengan komposisi kredit produktif Rp 31 miliar dan kredit konsumtif Rp 125 miliar. “Produk kredit yang menjadi prioritas penyaluran dalam tahun 2016 adalah kredit program pemerintah yang merupakan program pemerintah pusat yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan KPR-FLPP,” tambahnya.

Bank NTB ditetapkan Bank Penyalur KUR dalam tahun 2016 pada sektor 1 yaitu pertanian, perkebunan dan kehutanan. Selain itu juga untuk sektor 2 yaitu perikanan dan kelautan yang sejalan dengan prioritas program unggulan pemerintah daerah yaitu PIJAR (sapi, jagung, rumput laut).

Tahun 2016 Bank NTB telah menyalurkan KUR sebesar Rp 31,887 miliar atau 79,72 persen dari target. KUR disalurkan kepada pelaku usaha mikro sebesar Rp 15,012 miliar yang realisasinya 100,08 persen dari target dan KUR Ritel sebesar Rp 16,875 miliar sebesar 67,50 persen dari target.

Komoditas yang dibiayai melalui KUR antara lain jagung, cabai, sapi, ikan, dan rumput laut. Fasilitas KUR dalam tahun 2017 terus berjalan dengan peningkatan target menjadi sebesar Rp 100 miliar. “Share terbesar pada komoditas jagung mencapai 79 persen dengan pembiayaan tersebar di beberapa kabupaten yaitu Dompu, Bima, Sumbawa, Lombok Timur, dan Lombok Utara,” terang Komari.

Fasilitas Kredit Pemilikan Rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (KPR-FLPP) juga menjadi prioritas penyaluran kredit Bank NTB. Tahun 2012 dengan tahap awal sebagai pilot project adalah pembangunan perumahan untuk PNS di Kabupaten Sumbawa Barat yaitu kerja sama antara Pemkab Sumbawa Barat, Perum Perumnas dan Bank NTB. Dalam upaya percepatan penyaluran, Bank NTB telah melakukan kerja sama dengan beberapa developer. Saat ini dengan PT. Baiti Jannati untuk pembangunan perumahan KPR-FLPP dan perumahan komersial di Desa Moyo, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa dengan rencana pembangunan sebanyak 1.058 unit rumah.

Dalam tahun 2017, produk kredit yang menjadi prioritas dalam penyalurannya pada tahun 2016 juga masih menjadi prioritas. Antara lain kredit pada pelaku usaha di beberapa desa wisata seperti Sembalun di Lombok Timur, Bile Bante di Lombok Tengah dan Sesaot di Lombok Barat yang merupakan mitra binaan dai kerja sama antara Universitas Mataram dan GIZ. Ada juga kerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi dan UMKM RI dalam rangka pinjaman dana untuk penyaluran kredit kepada pelaku KUMKM sebesar Rp 200 miliar. “Program ini dimaksudkan untuk mendapatkan pendanaan murah dan penyaluran dapat juga dilakukan dengan sistem pembiayaan syariah,” jelasnya.

Khusus untuk perolehan laba bank tahun 2016 meningkat 1,39 persen. Tahun 2015, laba Bank NTB sebesar Rp 225 miliar dan tahun 2016 ini menjadi 228 miliar. Rendahnya pertumbuhan laba usaha disebabkan pengaruh tingginya cost of fund dan belum optimalnya penggunaan modal karena sebagian besar setoran dilakukan pada akhir tahun. Sedangkan dalam pemenuhan modal inti, target tahun 2016 sesuai action plan sebesar Rp 1,15 triliun dan telah terpenuhi 106,86 persen atau sebesar Rp 1,229 triliun. Sementara pada triwulan I 2017 tercatat modal inti sebesar Rp 1,282 triliun. “Terpenuhinya target modal inti adalah wujud dari dukungan pada pemegang saham dalam upaya untuk meningkatkan bisnis Bank sehingga mampi berperan dalam mendukung pertumbuhan perekonomian daerah,” katanya.

Sementara itu, Rasio Kecukupan Modal (CAR) mencapai 31,17 persen pada tahun 2016, meningkat dibandingkan tahun 2015 yaitu sebesar 27,12 persen. Besarnya rasio CAR menunjukkan Bank memiliki ketahanan modal yang kuat dalam meng-cover risiko yang mungkin timbul. Rasio LDR Keberadaan Bank NTB sebagai lembaga intermediasi keuangan ditunjukkan dengan besarnya rasio LDR yang tercatat sebesar 97,66 persen pada tahun 2016.

Turunnya besaran rasio LDR dibandingkan pada tahun 2015 yaitu sebesar 100,87 persen menunjukkan rasio LDR yang semakin baik. “Dalam melakukan ekspansi penyaluran kredit, maka Bank mengimbangi dengan meningkatkan penghimpunan dana,” terangnya. Besarnya rasio profitabilitas (ROA dan ROE) pada tahun 2016 tercatat 3,95 persen dan 20,76 persen. Ini turun dari besarnya rasio ROA dan ROE tahun 2016 yaitu 4,27 persen dan 26,48 persen yang disebabkan masih besarnya beban cost of fund.

Tentunya ini berpengaruh pada pertumbuhan laba bank, dan belum dapat dimanfaatkannya modal secara maksimal dikarenakan setoran yang diterima pada akhir tahun. “Terakhir Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) pada tahun 2016 tercatat sebesar 68,69 persen, rasio BOPO terjaga dengan baik yakni lebih baik dari rata-rata industri yaitu 75 persen,” tandasnya. (nur/adv/r8)